
Penulis: Sultan Maulana Malik Ibrahim (Mahasiswa S1 Universitas Manouba, Manouba)
PPI Tunisia – Bangsa Indonesia lahir dari keberagaman yang sangat kaya. Dengan jumlah penduduk mencapai lebih dari 286 juta jiwa, dan memiliki 700 bahasa daerah, serta lebih dari seribu suku bangsa, Indonesia tercatat sebagai salah satu negara paling majemuk di dunia. Keberagaman ini menjadi identitas sekaligus kekuatan bangsa, tetapi di sisi lain juga menyimpan potensi konflik apabila tidak dikelola dengan bijaksana. Sejarah panjang perjalanan Indonesia menunjukkan bahwa persatuan selalu menjadi kunci untuk bertahan melewati berbagai ujian, mulai dari masa penjajahan, perjuangan kemerdekaan, hingga tantangan global modern. Karena itulah, tema besar persatuan harus menjadi landasan utama ketika bangsa ini menatap masa depan, khususnya menuju visi besar Indonesia Emas 2045.
Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan Sumpah Pemuda sebagai Fondasi
Para pendiri bangsa menyadari sejak awal bahwa Indonesia tidak akan bisa berdiri kokoh tanpa adanya fondasi ideologis yang mampu merangkul seluruh perbedaan. Dari kesadaran itulah lahir Pancasila, yang diformalkan pada 18 Agustus 1945 oleh PPKI. Pancasila bukan sekadar lima butir nilai, melainkan konsensus nasional yang lahir dari musyawarah, toleransi, dan semangat kebersamaan. Perubahan pada sila pertama, dari rumusan Piagam Jakarta menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa,” adalah bukti kebesaran jiwa para perumus bangsa dalam mengutamakan persatuan di atas kepentingan golongan.
Selain Pancasila, semboyan Bhinneka Tunggal Ika telah menjadi pengikat keberagaman bangsa ini. Dunia pun mengakui nilai yang terkandung di dalamnya. Sekjen PBB Antonio Guterres menyebut semboyan tersebut sebagai teladan persatuan di kawasan Asia Tenggara, sementara Paus Fransiskus memujinya sebagai cerminan keindahan keberagaman yang menyatu dalam satu bangsa. Lebih jauh ke belakang, tonggak penting yang melandasi persatuan bangsa Indonesia adalah peristiwa Sumpah Pemuda 1928. Dengan ikrar “satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa,” generasi muda kala itu berhasil menyalakan api nasionalisme yang menyatukan berbagai suku, daerah, dan budaya. Tanpa Sumpah Pemuda, tidak mungkin semangat kemerdekaan tahun 1945 dapat terwujud sekuat itu.
Indonesia dan Tantangan Sejarah
Delapan dekade perjalanan kemerdekaan Indonesia tidak pernah lepas dari ujian. Bangsa ini pernah menghadapi agresi militer Belanda, pemberontakan bersenjata, gerakan separatis, hingga gejolak politik dan ekonomi. Reformasi 1998 menjadi salah satu titik balik penting yang menunjukkan bagaimana bangsa ini berani memperbaiki diri demi masa depan yang lebih baik. Bahkan di era modern, ketika pandemi Covid-19 melanda dunia, Indonesia mampu membuktikan daya tahannya dengan menjaga stabilitas nasional sekaligus tetap berupaya memulihkan ekonomi.
Sejarah dunia menunjukkan banyak bangsa lain gagal bertahan menghadapi keragaman. Uni Soviet dan Yugoslavia terpecah karena konflik etnis, begitu pula Sudan yang terbelah menjadi dua negara akibat perbedaan agama dan politik. Pada tanggal 14 Agustus 1947, Pakistan memisahkan diri dari India disebabkan oleh perbedaan budaya dan agama. Sekitar dua dasawarsa kemudian, tahun 1971, Pakistan Timur memisahkan diri menjadi Bangladesh dikarenakan perbedaan budaya, bahasa, dan ekonomi, serta deskriminasi Pakistan Barat terhadap Pakistan Timur. Namun, Indonesia berhasil tetap berdiri tegak berkat fondasi persatuan yang kokoh. Hal ini membuktikan bahwa bangsa Indonesia memiliki modal sosial yang sangat besar untuk menatap masa depan, asal persatuan dan kebersamaan tetap dijaga.
Menuju Indonesia Emas 2045
Visi Indonesia Emas 2045 adalah cita-cita besar yang ingin diwujudkan tepat pada usia satu abad kemerdekaan. Visi ini menargetkan Indonesia menjadi salah satu kekuatan utama dunia yang berdaulat, adil, makmur, serta berpengaruh di tingkat internasional. Untuk mencapai citacita tersebut, ada beberapa pilar utama yang harus diperkuat.
Pertama, pembangunan manusia unggul. Menurut Detik Health yang mengutip pernyataan Sekretaris Utama BKKBN, pada tahun 2025 sekitar 70% penduduk Indonesia berada dalam kelompok usia produktif (15–64 tahun). Sementara itu, Kajian FISIP UIN Jakarta menyebut bahwa secara umum selama rentang 2020–2035, proporsi penduduk usia produktif adalah sekitar 69–70 % dari total penduduk. Bonus demografi yang dimiliki Indonesia pada dua dekade mendatang hanya akan menjadi berkah apabila dikelola melalui pendidikan berkualitas, akses kesehatan yang merata, serta penciptaan lapangan kerja produktif. Pemuda harus dipersiapkan agar tidak sekadar menjadi tenaga kerja, tetapi juga menjadi inovator, pemimpin, dan agen perubahan.
Kedua, penguatan ekonomi berbasis inovasi dan teknologi. Indonesia tidak bisa lagi bergantung hanya pada eksploitasi sumber daya alam. Dunia tengah bergerak menuju era ekonomi digital, energi terbarukan, dan industri berbasis kreativitas. Indonesia harus bertransformasi menjadi negara yang mandiri dalam riset, kuat dalam industri manufaktur, dan tangguh dalam sektor pertanian modern.
Ketiga, pemerataan pembangunan. Indonesia tidak boleh membiarkan kesenjangan antara Jawa dan luar Jawa, kota dan desa, atau pusat dan daerah tertinggal semakin melebar. Dampak dari kesenjangan pembangunan bukan hanya pada ekonomi dan sosial saja, akan tetapi berdampak pada kepercayaan masyarakat yang dapat memicu disintegrasi dan ancaman kedaulatan. Oleh karena itu, keadilan sosial hanya bisa terwujud apabila setiap warga negara merasakan manfaat pembangunan, tanpa terkecuali.
Tantangan Global dan Peran Pemuda
Tantangan yang akan dihadapi Indonesia tidaklah ringan. Disrupsi teknologi, perubahan iklim, krisis energi, dan persaingan geopolitik akan mewarnai perjalanan menuju 2045. Selain itu, ancaman korupsi, intoleransi, dan kesenjangan sosial masih menjadi masalah internal yang harus segera diatasi. Dalam konteks inilah, peran pemuda menjadi sangat penting. Generasi muda adalah penerus yang akan menentukan arah bangsa dua puluh tahun mendatang. Mereka harus dibekali bukan hanya keterampilan teknis, tetapi juga nilai moral, nasionalisme, dan semangat gotong royong.
Seperti Sumpah Pemuda 1928, pemuda masa kini harus berani melahirkan “sumpah baru” dalam bentuk komitmen untuk menjaga persatuan, memperjuangkan keadilan, serta memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hanya dengan begitu, visi Indonesia Emas 2045 dapat benar-benar diwujudkan.
Indonesia Emas 2045 bukan sekadar mimpi, melainkan cita-cita kolektif seluruh bangsa. Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan Sumpah Pemuda telah memberi teladan bagaimana persatuan mampu melampaui segala perbedaan. Kini, tugas generasi kita adalah merawat warisan tersebut sambil menyiapkan diri menghadapi tantangan abad ke-21. Dengan sinergi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat sipil, Indonesia berpeluang tampil sebagai kekuatan besar dunia. Jika persatuan terus dijaga dan inovasi menjadi budaya, maka pada tahun 2045 Indonesia bukan hanya merayakan seratus tahun kemerdekaan, tetapi juga meneguhkan diri sebagai bangsa emas yang berdaulat, adil, makmur, dan berpengaruh di panggung internasional.