
Penulis: Muttaqin Hidayahtullah (Mahasiswa S1 Universitas Manouba, Manouba, Tunisia)
PPI Tunisia – Dewasa ini, kita dihadapkan dengan berbagai kemajuan teknologi, tak terkecuali penggunaan Artificial Intelligence (AI). Penggunaan AI saat ini semakin sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti: mengerjakan tugas, mencari resep masak, bahkan persoalan-persoalan kecil lainnya. Maka timbul pertanyaan baru, apakah penggunaan teknologi seperti AI ini memang memudahkan manusia, atau justru memberikan dampak buruk pada tumbuh kembang pemikiran manusia?
Pertanyaan tersebut membuat pembicaraan mengenai AI tidak cukup berhenti pada persoalan teknologi. AI bukan sekadar perangkat baru yang hadir untuk membuat pekerjaan manusia menjadi lebih mudah. Ia perlahan memasuki wilayah yang jauh lebih fundamental: pengetahuan, nalar, kreativitas, pekerjaan, relasi sosial, bahkan cara manusia memahami dirinya sendiri. Karena itu, membicarakan AI sejatinya adalah membicarakan kembali manusia.
Barangkali di sinilah kita perlu menelusuri persoalan paradigmatis di balik eksistensi AI. Sebab setiap teknologi lahir dari sebuah paradigma. Ia tidak muncul di ruang yang kosong belaka. Ada cara pandang terhadap manusia, pengetahuan, alam, efisiensi, kekuasaan, dan masa depan yang menjadi fondasi mengapa sebuah teknologi diciptakan dan dikembangkan. AI pun demikian. Di balik algoritma dan kode yang tampak teknis, terdapat pertanyaan filosofis yang sangat manusiawi: sejauh mana manusia ingin memperluas kemampuan dirinya?
Sejarah peradaban menunjukkan bahwa manusia selalu berusaha menciptakan alat untuk melampaui keterbatasannya. Ketika tubuh memiliki keterbatasan, manusia menciptakan kendaraan. Ketika daya ingat terbatas, manusia menciptakan tulisan dan arsip. Ketika kemampuan menghitung terbatas, manusia menciptakan kalkulator dan komputer. Ketika komunikasi dibatasi jarak, manusia menciptakan telepon dan internet. Maka, dalam garis sejarah tersebut, AI dapat dilihat sebagai kelanjutan dari keinginan manusia untuk memperluas kemampuan kognitifnya.
Namun, ada perbedaan penting. Teknologi sebelumnya sebagian besar telah membantu manusia melakukan sesuatu. AI mulai memasuki wilayah yang selama ini dianggap sebagai ruang khas manusia: berpikir, mengolah bahasa, mengenali pola, membuat prediksi, dan menghasilkan karya. Di sinilah AI menjadi lebih dari sekadar alat. Ia menjadi fenomena yang memaksa manusia menguji kembali batas-batas konsepsi tentang kecerdasan.
Kita kemudian berhadapan dengan sebuah paradoks. Semakin pintar teknologi yang kita ciptakan, semakin mendesak kebutuhan untuk memahami apa arti kecerdasan itu sendiri. Apakah seseorang disebut cerdas hanya karena mampu menghasilkan jawaban? Apakah pengetahuan hanya persoalan memiliki informasi? Apakah kreativitas hanya kemampuan menghasilkan sesuatu yang baru? Jika semua itu dapat dilakukan oleh mesin, maka ukuran tentang manusia harus diletakkan lebih dalam daripada sekadar kemampuan menghasilkan keluaran intelektual.
Di titik inilah perspektif maqāṣid al-syarī‘ah memperoleh relevansinya. Maqāṣid tidak hanya berbicara mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, tetapi juga mengenai tujuan yang hendak diwujudkan melalui hukum dan kehidupan manusia. Orientasinya adalah kemaslahatan, perlindungan terhadap hal-hal fundamental, serta pencegahan terhadap kerusakan.
Dengan demikian, AI tidak semestinya hanya ditanyakan melalui pertanyaan: “Apa yang dapat dilakukan teknologi ini?” Pertanyaan tersebut perlu diteruskan menjadi: “Untuk apa kemampuan itu digunakan?” Bahkan lebih jauh: “Apakah penggunaannya membawa kemaslahatan atau justru menghasilkan kerusakan?”
Perubahan cara bertanya ini sangat penting. Sebab kemampuan teknologi tidak selalu berbanding lurus dengan kemanfaatannya. Sesuatu yang dapat dilakukan secara teknologis belum tentu layak dilakukan secara etis. Kecepatan tidak selalu berarti kebenaran. Efisiensi tidak selalu berarti keadilan. Dan kecanggihan tidak selalu berarti kemaslahatan.
Dalam konteks ḥifẓ al-‘aql, misalnya, AI dapat menjadi instrumen yang sangat kuat untuk memperluas akses manusia terhadap pengetahuan. Mahasiswa dapat menggunakannya untuk memahami konsep yang rumit, peneliti dapat menggunakannya untuk mengolah informasi, dan masyarakat dapat memanfaatkannya untuk belajar berbagai hal yang sebelumnya sulit dijangkau. AI dapat menjadi semacam jembatan yang memperpendek jarak antara manusia dan pengetahuan.
Tetapi jembatan juga dapat membuat seseorang lupa bagaimana cara berjalan. Ketika manusia terlalu bergantung kepada AI untuk berpikir, menyusun argumen, menulis, bahkan menentukan jawaban atas persoalan yang seharusnya dipahaminya sendiri, teknologi yang awalnya dirancang untuk membantu akal justru berpotensi menggantikan aktivitas akal. Di sinilah makna ḥifẓ al-‘aql menjadi semakin penting. Menjaga akal bukan hanya berarti menyediakan pengetahuan, tetapi juga menjaga kemampuan manusia untuk berpikir kritis, membedakan benar dan salah, mempertanyakan informasi, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
AI dapat memberikan jawaban dalam hitungan detik. Tetapi manusia tetap harus memiliki alasan mengapa jawaban itu dipercaya. Persoalan yang sama muncul ketika AI masuk ke ruang ekonomi dan pekerjaan. Otomatisasi dapat meningkatkan produktivitas dan mengurangi pekerjaan yang bersifat repetitif. Namun, perubahan tersebut juga dapat menggeser struktur pekerjaan dan menciptakan bentuk ketimpangan baru. Dalam perspektif ḥifẓ al-māl, pertanyaannya bukan sekadar berapa besar keuntungan yang dapat dihasilkan AI, tetapi bagaimana teknologi tersebut memengaruhi distribusi manfaat dan beban di tengah masyarakat.
Siapa yang memiliki data? Siapa yang mengendalikan algoritma? Siapa yang memperoleh keuntungan? Siapa yang terdampak ketika pekerjaan mengalami otomatisasi? Dan apakah masyarakat yang paling rentan juga memperoleh kesempatan untuk menikmati manfaat perkembangan teknologi?
Pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa AI tidak dapat dilepaskan dari persoalan keadilan. Begitu pula dengan ḥifẓ al-nafs. AI dapat digunakan untuk membantu manusia dalam berbagai bidang yang berkaitan dengan keselamatan dan kesejahteraan. Tetapi teknologi yang sama dapat menghadirkan risiko apabila digunakan tanpa pengawasan dan tanggung jawab. Kesalahan sistem, penyalahgunaan data, diskriminasi algoritmik, manipulasi informasi, maupun keputusan otomatis yang berdampak pada kehidupan seseorang menunjukkan bahwa teknologi selalu memiliki konsekuensi.
Karena itu, manusia tidak cukup menjadi pengguna teknologi. Manusia harus menjadi pihak yang bertanggung jawab atas bagaimana teknologi digunakan. AI membawa kita kepada sebuah persoalan yang lebih dalam: persoalan orientasi peradaban. Kita sedang berada dalam situasi ketika kemampuan untuk menciptakan sesuatu berkembang lebih cepat daripada kemampuan kita untuk menentukan apakah sesuatu itu seharusnya diciptakan dan digunakan.
Inilah yang menjadikan maqāṣid penting sebagai paradigma. Maqāṣid dapat berfungsi sebagai kompas yang mengarahkan perkembangan teknologi agar tidak kehilangan orientasi kemanusiaannya. Ia tidak harus ditempatkan sebagai penghambat inovasi, tetapi justru dapat menjadi kerangka untuk memastikan bahwa inovasi bergerak menuju kemaslahatan.
Sebab teknologi pada dasarnya hanyalah sarana. Nilai moralnya sangat bergantung pada tujuan, cara penggunaan, serta dampak yang ditimbulkannya. AI dapat digunakan untuk pendidikan, tetapi juga dapat digunakan untuk manipulasi. AI dapat membantu penelitian, tetapi juga dapat menghasilkan informasi yang keliru. AI dapat meningkatkan produktivitas, tetapi juga dapat memperlebar kesenjangan. AI dapat memperluas akses pengetahuan, tetapi juga dapat membuat manusia kehilangan kebiasaan berpikir.
Karena itu, persoalan AI bukan hanya tentang bagaimana membuat mesin semakin cerdas. Persoalan yang jauh lebih mendasar adalah bagaimana membuat manusia semakin bijaksana dalam menggunakan kecerdasan yang diciptakannya.
Di sinilah Akar paradigmatis-maqāṣidi itu dapat ditemukan. Paradigma teknologi bergerak dengan pertanyaan tentang kemungkinan: apa yang bisa dilakukan manusia dengan teknologi? Sementara paradigma maqāṣidi membawa pertanyaan tentang tujuan: untuk siapa, untuk apa, dan menuju kemaslahatan seperti apa teknologi itu digunakan?
Keduanya tidak harus dipertentangkan. Justru keduanya perlu dipertemukan. Kita tidak perlu takut terhadap teknologi hanya karena ia semakin canggih. Tetapi kita juga tidak boleh terpesona oleh kecanggihannya hingga lupa mempertanyakan konsekuensinya. Masa depan bukan hanya milik mereka yang mampu menciptakan AI paling pintar, tetapi juga milik mereka yang mampu menentukan bagaimana kecerdasan tersebut diarahkan.
Sebab mungkin persoalan terbesar AI bukanlah apakah suatu hari mesin akan menjadi seperti manusia. Persoalan yang jauh lebih dekat justru apakah manusia akan menyerahkan terlalu banyak hal kepada mesin hingga perlahan kehilangan kemampuan yang membuatnya manusiawi.
AI seharusnya tidak membuat manusia berhenti berpikir. Ia justru harus mendorong manusia untuk berpikir lebih dalam: tentang pengetahuan, tentang tanggung jawab, tentang keadilan, tentang kehidupan, dan tentang tujuan keberadaan dirinya sendiri. Sebab teknologi boleh bergerak sejauh mungkin menuju masa depan. Namun, semakin jauh manusia berjalan menuju masa depan, semakin penting baginya untuk mengetahui kemana sebenarnya ia sedang menuju.