PPI TUNISIA

Membangun Etos Kerja dalam Latihan Dasar Organisasi (LDO) PPI Tunisia

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Tunisia menggelar Laporan Triwulan Pengurus dan Latihan Dasar Organisasi (LDO) di Qa’ah Ibnu Asyur Fakultas Hadlarah Islamiah, Universitas Zaitouna dengan tema ‘Optimalisasi Sumber Daya dalam Organisasi: Menyusun Strategi yang Berkelanjutan’, pada (01/12/2024).

Acara ini digagas oleh Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) PPI Tunisia. Muhammad Fhalih Habib Zaberti selaku perwakilan MPA PPI Tunisia menegaskan bahwa, PPI Tunisia harus mempercepat proses kaderisasi guna menyongsong kebutuhan pengurus, melihat bahwa semakin tahun jumlah Mahasiswa Indonesia di Tunisia kian meningkat. Dengan jumlah mahasiswa yang besar, ia berharap PPI Tunisia dapat menstabilkan Administrasi dan Dasar Organisasi PPI Tunisia.

“Hampir setengah tahun kita menjalankan organisasi PPI Tunisia ini. Seiring berjalannya waktu, warga PPI Tunisia semakin hari semakin bertambah. Ini merupakan tugas bagi kita untuk segera mempercepat proses kaderisasi. Karena semestinya, semakin banyak warga PPI Tunisia, kita semakin butuh kepada tenaga-tenaga baru yang akan melengkapi komponen-komponen pengurus yang ada di Tunisia. Saya juga berharap, dengan semakin besarnya PPI Tunisia, kita dapat stabil dalam masalah Administrasi juga Dasar-dasar Organisasi yang ada di dalam PPI Tunisia.” Ujar Falih.

Ia juga mengatakan, bahwa pemateri-pemateri yang diundang pada Pelatihan kali ini merupakan kader-kader terbaik PPI Tunisia yang sudah lama mengabdi dan tahu betul bagaimana proses terbentuknya dasar-dasar organisasi yang ada di PPI Tunisia. Ketiga pemateri yang dihadirkan memiliki karakter yang berbeda dalam berorganisasi. Ada yang berpengalaman di organisasi Timur-Tengah, ada yang berpengalaman di organisasi lokal-internasional, ada pula yang menjadi saksi transisi kepengurusan PPI Tunisia dari tahun ke tahun dan terlibat dalam pergerakan buruh tani, pekerja serabutan, dan pergulatan politik kelas menengah ke bawah.

“Pada Pelatihan kali ini, kita mengundang tiga pemateri yang sangat kompeten di bidangnya. Mereka merupakan senior-senior saya yang menarik saya masuk ke dalam ruang organisasi PPI Tunisia. Ada Mas Chudori, yang sudah malang melintang di keorganisasian PPI Kawasan Timur-Tengah, darinya kita bisa belajar bagaimana caranya working hubungan dengan organisasi luar, bagaimana cara mengajukan sponsor. Ada Kang Idris, yang mengetahui perbandingan antara organisasi dalam negeri dan organisasi luar negri, dari beliau juga kita bisa belajar bagaimana caranya membangun etos kerja dalam organisasi. Yang terakhir ada Mas Habli, beliau merupakan saksi hidup pergulatan dan transisi kepengurusan PPI Tunisia dari tahun ke tahun.” Tambah beliau.

Dalam sambutannya pula, Anwar Ibrahim selaku Ketua PPI Tunisia menyampaikan bahwa Latihan Dasar Organisasi dan Triwulan Kabinet Persona diadakan untuk meningkatkan kualitas kepemimpinan, pengelolaan organisasi, serta mempererat tali silaturahmi antar pengurus. Ia juga mengatakan bahwa Triwulan ini merupakan momen penting untuk mengevaluasi program-program yang belum maksimal terlaksana.

“Kita harus bangga dan bersyukur menjadi bagian dari pengurus PPI Tunisia. Adanya acara ini merupakan langkah awal dalam memahami dasar-dasar organisasi dan nilai-nilai organisasi serta bagaimana caranya kita dapat berperan dan bertanggung jawab dalam melaksanakan program-program kita. Acara ini juga insyaallah dapat meningkatkan kualitas kepemimpinan, pengelolaan organisasi, serta mempererat tali silaturahmi antar pengurus.” Ujar Anwar dengan penuh semangat.

Materi awal disampaikan oleh saudara Idris Ahmad Rifai, S.TH.I., M.A., selaku mantan ketua Majelis Permusyawaratan Anggota dan mantan Ketua Tanfidziah PCI NU Tunisia. Saat ini, ia menjabat sebagai Rois Syuriah PCI NU Tunisia periode 2024-2026. Dalam materinya, ia mengatakan bahwa dalam berorganisasi kita harus memiliki imajinasi dalam berorganisasi, untuk memperkaya program-program yang akan kita laksanakan nantinya. Ia mengadopsi konsep hierarki reformasi (“shalah” dalam bahasa Arab) yang dipopulerkan oleh Thahir bin Asyur dalam bukunya Muqaddimah al-Tahrir wa al-Tanwir.

“Seorang pemimpin dalam berorganisasi harus memiliki hierarki imajinasi untuk memperkaya program-program yang akan dia laksanakan kedepannya. Mengadopsi konsep hierarki reformasi (“shalah” dalam bahasa Arab) yang dipopulerkan oleh Thahir bin Asyur dalam bukunya Muqaddimah al-Tahrir wa al-Tanwir, saya membagi hierarki imajinasi dalam tiga bagian: khiyal al-fard, khiyal al-mujtama, dan khiyal al-umran.

Khiyal al-fard (imagined individuals), berarti individu yang diimajinasikan. Artinya, seorang pemuda harus mengimajinasikan dirinya sendiri di masa depan. Selanjutnya, khiyal al-mujtama’ (imagined communities), berarti komunitas atau masyarakat yang diimajinasikan. Terakhir, khiyal al-‘umran (imagined civilizations), artinya peradaban yang diimajinasikan. Paska seorang pemuda selesai dengan dirinya dan masyarakatnya, maka ia harusnya mampu mengimajinasikan yang lebih daripada itu, yakni menebar manfaat untuk peradaban dunia.” Ujar Idris.

Apa yang disampaikan Kang Idris – sapaan akrabnya – merupakan konsep pembaruan yang berdasarkan pada nilai-nilai agamis yang populer di Tunisia. Ini merupakan suatu hal yang penting bagi kita untuk semakin aktif memahami konsepsi-konsepsi para pemikir di besar di Tunisia. Ini mencerminkan bahwa mahasiswa Indonesia di Tunisia bukan hanya kompeten dalam organisasi, namun juga aktif dalam kajian pemikiran kontemporer di belahan dunia terkhusus di Indonesia.

Tidak hanya sampai di situ, pemateri ke dua tidak kalah serunya. Habli Husna Muhammad, LC. dengan semangatnya yang menggebu-gebu membakar api semangat para pengurus PPI Tunisia periode 2024-2025. Ia tidak hanya aktif dalam organisasi formal yang ada di lingkungan Mahasiswa, namun beliau juga aktif dalam pergerakan buruh tani, pekerja serabutan, dan pergulatan politik kelas menengah ke bawah. Karena itu, ia tahu betul apa sebenarnya yang terjadi dalam pengelolaan organisasi yang real di masyarakat. Ada yang menarik dalam penyampaian materi yang ia sampaikan, yaitu menutup materinya dengan berteriak lantang: siapa yang siap menjadi bagian dari Indonesia Emas 2045! Serentak seluruh pengurus menjawab: Saya! Dan begitulah akhir kata yang ia sampaikan.

Sebagai penutup, pelajaran tentang bagaimana caranya kita berdiplomasi disampaikan oleh Mohammad Al Chudori, LC. selaku mantan Koordinator PPI Kawasan Timur-Tengah dan Afrika. Mahasiswa sebagai diplomat kecil memiliki kewajiban untuk memperluas jejaring sosial melalui hubungan yang baik sejak di kampus. Itu adalah gambaran yang paling mudah dipahami oleh masyarakat lokal, sebenarnya seperti apa karakter sebenarnya Mahasiswa Indonesia di sini. Apa yang kita lakukan di luar negeri, baik buruknya akan kembali kepada perspektif masyarakat lokal ketika mereka melihat etika kita sehari-hari. Selain itu, kita juga diharuskan memiliki kemampuan untuk menganalisis lingkungan sekitar, sehingga tidak ditemukannya kesebrangan etika sosial yang dapat menimbulkan ketabuan dan kesenggangan moral. Oleh karena itu, sebagai wajah dari negara Indonesia, kita harus mencerminkan pribadi kita sebaik mungkin, sehingga memunculkan perspektif baik masyarakat lokal terhadap negara kita tercinta.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *